SARA

Posted: January 5, 2011 in Tugas-Tugas Kuliah (2011-2012)

Mengapa Negara harus bergantung pada Negara lain ?

Dilihat dari teori ketergantungan :

  1. Karena kehidupan ekonomi  Negara  pinggir  tergantung  ke negara  pusat.
  2. Terjadinya  kerjasama  modal asing  dengan  kelas  borjuasi  dan  kelas penguasa.
  3. Terjadi  ketimpangan yang kaya  dan yang miskin  terjadi eksploitasi rakyat kecil .

http://www.google.co.id/search?q=negara+harus+tergantung+dengan+negara+lain&hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla:en-US:official&ei=2JvyTLvvMMLQcdfhvNUK&start=20&sa=N

Jumlah penduduk dalam suatu Negara sudahlah dapat dikatakan melampaui batas. Manusia sekarang berjumlah 6,6 milyar, dan masih akan bertambah tapi bumi tidak bertambah. Oleh karena itu pangan, energi dan air jadi persoalan.

http://www.opensubscriber.com/message/ppiindia@yahoogroups.com/11057974.html

Di negara berkembang rendahnya tingkat pendidikan penduduk berdampak pada terlambatnya perkembangan teknologi,  banyak hasil teknologi modern dapat diimpor dari negara maju.

Saling tukar-menukar IPTEK merupakan solusi untuk Negara berkembang untuk semakin mengikuti kemajuan dari Negara maju.

http://www.crayonpedia.org/mw/PERKEMBANGAN_NEGARA_NEGARA_DIDUNIA_9.1_RATNA_SUKMAYANI

Sering kali negara berkembang harus membeli hasil industri dari negara maju, meskipun sebenarnya bahan mentah produksi berasal dari negaranya. Lalu negara berkembang membeli hasil olahan tersebut dari negara maju. Perkembangan industri suatu negara sangat dipengaruhi oleh perkembangan atau kemajuan teknologinya.

http://www.crayonpedia.org/mw/PERKEMBANGAN_NEGARA_NEGARA_DIDUNIA_9.1_RATNA_SUKMAYANI

Bahwa negara-negara merdeka yang muncul di Dunia Ketiga yang sebelumnya dijajah, terlanjur mempunyai kekuasaan yang begitu besar. Pemerintah berdiri di atas klas-klas sosial yang ada. Kekuasaan yang lebih besar dari pada kekuatan yang ada di tangan rakyatnya. Ketika masyarakat jajahan ini berhasil memperoleh kemerdekaan, pemerintah atau birokrasi kolonial yang ada masih tetap utuh. Penguasa nasional yang baru seringkali merasa bahwa perangkat kekuasaan ini memudahkan mereka untuk memerintah. Karena itu di banyak negara Dunia Ketiga yang memperoleh kemerdekaan, bentuk pemerintahannya harus dipertahankan, atau sangat sedikit diubah oleh penguasa yang baru, dan inilah yang disebut sebagai negara pasca colonial

http://members.multimania.co.uk/nabirz/negmbgn.htm

Bisa diketahui dari ciri – ciri negara berkembang, karena negara berkembang selalu tergantung dengan negara maju. Ciri-ciri negara berkembang antara lain sebagai berikut :

  1. Pertanian termasuk peternakan dan perikanan hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan keluarga.
  2. Pada umumnya aktivitas masyarakat menggunakan sarana dan prasarana tradisional.
  3. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berdasarkan pengalaman dan lamban.
  4. Pendapatan relatif rendah.
  5. Pendidikan penduduknya rata-rata rendah.
  6. Sifat penduduk kurang mandiri.
  7. Sangat tergantung pada alam.
  8. Tingkat pertumbuhan penduduk tinggi.
  9. Angka harapan hidup rendah.
  10. Intensitas mobilitas rendah

http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Negara_Maju_dan_Negara_Berkembang_9.1_%28BAB_1%29

Contoh masalah SARA yang ada di Indonesia

1. Konflik Poso

Poso merupakan sebuah kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah yang memiliki luas wilayah 14.433,76 Km2 dengan letak geografis 0,35-1,20 LU dan 120,12-122,09 BT. Di wilayah administratif kabupaten Poso menyebar 13 kecamatan yang membawahi 211 desa dan 29 kelurahan, yang didiami 231.891 jiwa (sensus penduduk 2000) dengan pluralitas masyarakat yang hidup dari beragam komunitas etnis dan agama.Di samping tanah pertanian yang subur, sebagian besar wilayah kabupaten Poso ditumbuhi hutan dengan vegetasi kayu-kayuan (jenis agathis, ebony, meranti, besi, damar dan rotan), fauna yang hidup secara endemik (anoa, babi rusa dan burung maleo) serta tambang mineral yang cukup banyak tersebar di sekitar kawasan pegunungan.

Masyarakat Poso mempunyai latar belakang sejarah dan peradaban yang panjang di masa lampau yang bisa dilacak lewat warisan peninggalan kebudayaan megalit. Secara kultural masyarakat Poso yang menggunakan bahasa Bare’e dalam komunikasi, mengikat kekerabatan mereka dengan semboyan sintuwu maroso (persatuan yang kuat) yang bertahan hingga meledaknya konflik sosial pada akhir 1998 yang terus berlanjut sampai dengan sekarang.

Solusinya :

Kecenderungan Meningkatnya Konflik Komunal di Era Reformasi.
Sesungguhnya Nusantara ini tidak pernah sepi dari konflik komunal sejak tahun 1950-am. Konflik sejenis ini telah banyak terjadi di masa Soekarno, Soeharto sampai sekarang. Konflik antar suku di Kalimantan telah mulai terjadi sejak tahun 1950-an dengan puncaknya pada konflik etnis di Sanggau Ledo, Kalimantan Barat. Konflik terakhir terjadi di Sampit, Kalimantan Tengah adalah yang ke-16 kalinya. Masih di masa Orde Baru, terjadi berbagai pertikaian bernuansa agama di Jawa seperti di Situbondo, Tasikmalaya dan Pekalongan. Konflik antar umat beragama juga terjadi secara terbatas di Halmahera Utara. Sedangkan di Poso sendiri, ada dua gejolak antar umat beragama masing-masing pada tahun 1992 dan 1995.

Setiap konflik komunal pada masa Orde Baru relatif dapat diredam. Keberhasilan menumpas setiap konflik SARA di masa Orde Baru merupakan bagian integral dari upaya mewujudkan “keamanan dan ketertiban umum” (general security and order) bagi seluruh lapisan masyarakat di seluruh bagian Nusantara. Upaya ini dilakukan dengan :

(a) mengoperasikan seperangkat lembaga-lembaga hegemonik-ideologis;

(b) menciptakan suatu mesin politik raksasa yang bernama Golkar dengan berbagai organisasi massa turunannya serta dengan

(c) menggerakkan serangkaian mesin penundukan dengan kekerasan. Strategi utama yang diterapkan adalah strategi umum yang lumrah dipakai oleh rezim otoriter “bagi-bagi berkah dan gebuk” (stick and carrot strategy).

Pada era reformasi yang mulai bergulir sejak 1998 konflik bernuansa etnis/kedaerahan dan agama meningkat. Hal ini lebih disebabkan akumulasi ketidak-adilan dalam proses politik dan distribusi kekuasaan serta ketidakadilan dalam menikmati hasil pembangunan. Rakyat (khususnya di daerah) relatif lebih gampang terprovokasi oleh isu-isu yang belum tentu benar dan menjadi anarkis, apalagi isu yang dihembuskan sengaja bernuansa etnis dan agama. Dibandingkan dengan kawasan Indonesia Barat, konflik di Indonesia Timur jauh lebih sering. Hal ini disimpulkan bahwa keragaman suku di kawasan Indonesia Timur (547 suku) lebih tinggi dari Indonesia Barat (109 suku).

http://buletinlitbang.dephan.go.id/index.asp?vnomor=14&mnorutisi=7

2. Papua Terancam Konflik Agama

Secara terbuka, memang konflik itu belum kelihatan. Tapi bahwa potensi ada saya percaya. Karena memang terakhir ini, atau memang paling tidak dalam sepuluh tahun terakhir, kita kenal mungkin istilah yang pas adalah islam baru dan kristen baru, yang ada di Papua memang menunjukkan gejala-gejala atau tanda-tanda yang jelas bahwa ruang perbedaan itu semakin tajam, semakin terbuka.

Kita lihat tiba-tiba tumbuh di tanah Papua ini berbagai kelompok pengajian yang eksklusif kemudian ada juga gereja-gereja seperti di Sorong ada gereja yang sangat mewah dan tidak banyak masyarakat Papua yang masuk di situ. Kemudian juga ada pesantren-pesantren yang tiba-tiba bermunculan bahkan banyak dipertanyakan. Kenapa ada pesantren di komunitas yang non muslim. Juga organisasi seperti Hizbut Tahrir, kemudian juga ada kelompok-kelompok Salafi dan lain-lain. Itu sangat jelas sekali di Sorong, di daerah-daerah seperti Manokwari juga di Fak-Fak, di Kaimana dan Jayapura.

Solusi :

Membangun dialog

Tahun yang lalu, setelah pada tahun 1999 sejumlah aktivis dari kalangan muslim Papua mendorong terbentuknya itu solidaritas muslim Papua. Dan tahun yang lalu digelar muktamar yang pertama dan platform dari terbentuklah majelis muslim Papua dengan platform yaitu moderat, toleran, dialog, partisipasi dari masyarakat adat. Yang notabene itu lebih banyak masyarakat nasrani, sangat besar sekali.

Kita harap bahwa kelak lembaga ini melakukan proses penjembatanan hubungan antar subkultur. Tapi juga itu komunikasi dalam kerangka Papua tanah damai yang selama ini didukung oleh pimpinan agama, gereja-gereja, juga majelis ulama dan seterusnya. Itu terus menerus membangun dialog-dialog walau pun saya percaya bahwa di dalam kegiatan itu belum semua komponen-komponen ini terlibatkan. Tetapi ada komitmen yang kuat dari masyarakat Papua untuk menjaga agar Papua menjadi tanah damai.

http://static.rnw.nl/migratie/www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/papua_konflik_agama20080617-redirected

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s