MENUJU MASYARAKAT KOMUNIKATIF

Posted: May 27, 2011 in Tugas-Tugas Kuliah (2011-2012)

MENUJU MASYARAKAT KOMUNIKATIF

Penulis : F.Budi Hardiman

Buku ini merupakan usaha membaca pemikiran – pemikiran seorang teoritikus sosial dan filsuf jerman yang di segani, Jurgen Habermas. Dalam buku ini penulis memperkenalkan analisis – analisis filsuf ini, yang terpenting untuk mengikuti program teori kritisnya, khususnya relevan untuk masalah ilmu masyarakat, pilitik, dan filsafat.

Jurgen Habermas semakin besar pengaruhnya bagi perkembangan ilmu – ilmu sosial dan semakin banyak kepustakaan dan diskusi yang mengacu pada karya – karyanya. Habermas bukanlah seorang yang anti modernitas, tetapi dia melihat modernitas yang di arahkan oleh sistem kapitalisme ini bercacat. Dengan mengutamakan segi instrumental dan manipulatif yang terwujud dalam sistem ekonomi dan administrasi birokratis, modernitas kapitalis menindas segi – segi hakiki masyarakat yang pada dasarnya bersifat komunikatif.

Dari teori kritis Habermas, kita dapat belajar banyak mengenai bahaya – bahaya serius yang akan menimpa sebuah masyarakat yang strategi pembangunannya di arahkan semata – mata demi akumulasi modal, birokratisasi dan teknokratisasi masyarakat , yakni solidaritas sosial, Dan sejauh pembangunan masyarakat Indonesia menuju pada masyarakat modern kita tak bisa mengabaikan analisis – analisis Habermas tersebut.

Yang di acu dengan paradigma filsafat kesadaran atau apa yang disebut rasio yang berpusat subjek adalah segala bentuk pemikiran yang menempatkan kenyataan, baik masyarakat maupun alam sebagai objek, dan yang dianggap berpikir dalam paradigma adalah segala kecenderungan objektivisme dan positivisme bukan hanya filsafat modern ,melainkan ilmu – ilmu sosial kemanusiaan yang di turunkannya.

Sebenarnya pernyataan ini di keluarkan dalam hubungannya dengan para pemikir postmodern, sebuah aliran kontemporer yang cenderung menganggap proyek modernitas menuju masyarakat rasional sebagai perwujudan kekuasaan dalam bentuk sistem ekonomi dan administrasi birokrasi

Bagian satu :

Sekitar Teori Kritik Masyarakat

Ada enam tema dalam program teori kritis yang dirumuskan Habermas, yaitu : bentuk – bentuk integrasi sosial masyarakat postliberal, sosialisasi dan perkembangan ego, media massa dan kebudayaan massa, psikologi sosial protes, teori seni dan kritik atas positivisme. Dengan keenam tema ini, teori kritis menjadi inspirasi penting gerakan mahasiswa.

Titik tolak kritis sejak Horkheimer adalah masalah positivisme dalam ilmu –ilmu sosial , yaitu anggapan bahwa ilmu – ilmu sosial bebas nilai, terlepas dari praktik sosial dan moralitas, dapat di pakai untuk prediksi bersifat objektif.

Teori kritisnya yang disebut Teori Tindakan Komunikatif dengan tradisi – tradisi besar ilmu – ilmu sosial modern, Komunikasi adalah titik tolak fundamental Habermas yang erat hubungannya dengan usaha mengatasi kemacetan teori kritis para pendahulunya.

Tujuan ilmu – ilmu kritis adalah membantu masyarakat untuk mencapai otonomi dan kedewasaan. Masyarakat komunikatif bukanlah masyarakat yang melakukan kritik lewat revolusi dan kekerasan, melainkan lewat argumentasi. Argumentasi tersebut dibedakan manjadi dua yaitu : diskursus dan kritik. Diskursus untuk mencapai konsensus atas klaim kebenaran disebut diskursus toritis, sedangkan untuk mencapai konsensus atas klaim ketepatan disebut diskursus praktis , dan kritik kalau mempersoalkan norma – norma sosial yang dianggap objektif disebut kritik estetis, sedangkan kalau kita menyingkapkan penipuan dari masing – masing pihak yang berkomunikasi disebut dengan kririk terapeutis.

Habermas mengkonkretkan konsep refleksi diri atau kritik dalam paradigma komunikasi dengan memperlihatkan psikoanalisisfreud melalui kritik terapeutis ini, ideologisyang membuat para anggota masyarakat terhambat perkembangannya untuk mencapai otonomi dan kedewasaan ingin di hancurkan. Psikoanalisis dipandang sebagai metode yang mampu membawa ketidaksadaran ke permukaan kesadaran. Metode ini jangan di pandang objektivitas atau lepas dari konteks. Melainkan harus diletakkan dalam praksis komunikasi. Di jelaskan bahwa metode kritik berdiri di antara ilmu pengetahuan dan filsafat.

Bagian dua :

Sekitar Teori Perkembangan Masyarakat

Di dalam bab ini di jelaskan bagaimana modernisasi yang di proyekkan oleh masyarakat kapitalis ini mengarah pada totalitarianisme birokratis dan teknologis demi akumulasi modal.

Habermas menunjukkan bahwa  sejak semula proyek modernitas ini menyingkirkan dan menindas unsur – unsur komunikatif masyarakat yang disebutnya kerangka kerja institusional dan rasionalitas etis praktis demi penegakkan dimensi kerja sosial.

Habermas memperlihatkan bahwa modernitas kapitalis adalah bentuk terdistorsi dari proyek  modernitas , sebab mereduksi ini adalah patologi modernitas antara lain dalam bentuk erosi makna.

Habermas mengembangkan teorinya sendiri mengenai perkembangan masyarakat, bahwa masyarakat pada hakikatnya komunikatif dan yang menentukan perubahan sosial bukanlah semata – mata perkembangan kekuatan – kekuatan produksi atau teknologi, melainkan proses belajar daam dimensi praktis – etis.

Habermas memusatkan diri pada prinsip – prinsip organisasi sosial yang memperlihatkan adanya tahap – tahap perkembangan dalam praksis komunikasi.

Bagian Tiga :

Sekitar Kritik Atas Masyarakat Dewasa Ini

Habermas beranggapan bahwa kekuasaan semestinya tidak hanya di legitimasikan, melainkan juga di rasionalisasikan. Rasionalisasi disini tidak di mengerti dalam paradigma kerja, melainkan dalam paradigma komunikasi.

Bahwa kekuasaan harus di cerahi dengan diskusi rasional bersifat publik agar para anggota masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam menentukan perkembangan politis. Termasuk mengarahkan kemajuan teknis masyarakat.

Dalam menganalisis masyarakat kapitalis di jelaskan bagaimana Habermas  merumuskan sebuah diagnosis tentang kecenderungan krisis dalam masyarakat kapitalis itu.

Habermas tetap pada pendiriannya bahwa praksis komuniksi menjadi hakikat masyarakat dan juga bahwa masyarakat jangan di lihat hanya sebagai sistem administrasi dan ekonomi , melainkan juga solidaritas budaya atau komunitas.

Bagian empat :

Diskusi Dengan Pemikiran postmodern

Habermas berpegang teguh pada pendiriannya sejak semula : modernitas kapitalis adalah modernitas yang terdistrosi , sebuah dialektika pencerahan dan cacat – cacat ini bisa di atasi dengan pencerahan lebih lanjut dalam suatu negasi tetap terhadap rasio yang berpusat pada subjek dalam arti tindakan komunikatif

Berbeda dari pemikiran postmodern yang mengumumkan kesudahan modernitas, Habermas berpendapat bahwa modernitas adalah proyek yang belum selesai dan tugas historis teori kritis adalah membuat pencerahan lebuh lanjut menuju masyarakat yang komunikatif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s