CORAK DAN POLA KEHIDUPAN EKONOMI PEDESAAN MASYARAKAT PLERED

Posted: June 13, 2011 in Tugas-Tugas Kuliah (2011-2012)

CORAK DAN POLA KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI PEDESAAN MASYARAKAT PLERED

 

Salah satu fungsi utama sosial ekonomi masyarakat pedesaan di Indonesia adalah melakukan berbagai kegiatan produksi, teru­tama di sektor pertanian, dengan orientasi hasil produksinya untuk memenuhi kebutuhan pasar baik di tingkat desa itu sendiri atau di tingkat lain yang lebih luas. Dengan demikian mudahlah dimengerti, apabila sebagian besar warga masyarakat pedesaan melakukan kegiatan utamanya d am kegiatan pengolahan dan pemanfaatan lahan-lahan pertanian.

Karena fungsi sosial-ekonomi utama masyarakat pedesaan seperti hal tersebut di atas, maka sumber daya fisik utama yang paling penting dalam kehidupan masyarakat pedesaan tersebut adalah tanah atau lahan pertanian.

Penelitian tentang kewiraswataan pada masyarakat petani ini bertujuan untuk mengungkapkan dan menjelaskan corak dan pola kehidupan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat pedesaan di Indonesia, khususnya dengan semakin gencarnya wiraswasta di kalangan petani. Jiwa semacam ini dimiliki oleh para petard yang berupaya mencari nilai tambah dan cenderung berwawasan ke depan yang lebih baik.

Dengan memahami corak dan pola tersebut di atas, dapat ditemukenali berbagai kendala dan hambatan yang dapat terjadi jika suatu program pembangunan diterapkan dalam kehidupan masyarakat pedesaan.

Sedangkan tujuan praktisnya adalah tersedianya data me­ngenai corak dan pola kehidupan sosial-ekonomi pedesaan khusus­nya yang berhubungan dengan kewiraswataan pada masyarakat petard di Kecamatan Plered, sehingga dapat digunakan sebagai bahan pembinaan bagi peningkatan usaha di kalangan petani. 

         Letak dan Keadaan Alam

Secara administratif desa Anjun termasuk Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta Propinsi Jawa Barat. Desa Anjun yang merupakan pusat pengrajin terletak kurang lebih 1 km dari kantor Kecamatan Plered dan sekitar 15 km sebelah barat daya kota Purwakarta. Sedangkan dari arah Bandung, berada di sebelah barat laut dengan jarak kurang lebih 53 km.

Desa Anjun dapat dicapai melalui jalan darat yang beraspal cukup baik, baik dari arah Purwakarta, Bandung maupun Jakarta. Sedangkan untuk memasuki lokasinya, di mana terdapat took-­toko dan perusahaan-perusahaan yang membuat keramik, jalannya yang dapat dilalui memang jalan aspal, hanya kondisinya tidak semulus jalan raya Purwakarta. Sebagai pintu gerbang kota Ke­camatan Plered, Desa Anjung dapat ditempuh dengan kendaran­kendaraan kecil maupun besar. Dari kendaraan becak, delman, colt mini, colt besar, truk dan container untuk mengangkut ba­rang. Sedangkan angkutan lainnya untuk barang-barang kerajinan keramik yang akan dijual ke luar desa tersebut, dapat mengguna­kan kendaraan kereta api yang berhenti di stasiun kereta api Plered. Semua sarana transportasi itu cukup lancar, misalnya colt yang cukup, besar melayani penumpang sampai malam hari dan colt mini hanya sampai sore hari. Yang memiliki usaha di bidang transportasi di desa Anjun ada 2 orang pemilik truk, sepeda motor (ujek) 6 orang dan becak 4 orang.

         Keadaan Penduduk.

Sebagian besar penduduk desa Anjun seperti juga desa lainnya di Jawa Barat adalah suku bangsa Sunda yang memiliki bahasa sendiri yaitu bahasa Sunda

Berdasarkan monografi desa Anjun pada tahun 1993/1994 jumlah penduduk seluruhnya berjumlah 2.731 orang, yang terdiri dari laki-laki 1.323 orang dan perempuan 1.408 orang.

Menurut BPS, usia yang dianggap produktif di Indonesia adalah antara 15 – 54 tahun, di luar itu dianggap belum pro­duktif dan sudah tidak produktif. Akan tetapi daerah pedesaan memiliki kondisi sosial ekonomi yang berbeda untuk menentukan usia produktif, sehingga yang berlaku di daerah bisa relatif.

Relativisme penentuan usia produktif di tiap daerah, dikarena­kan pada usia-usia SD, anak anak sudah dikerahkan untuk mem­bantu pekerjaan orang tua. Sekalipun sifatnya sekedar membantu, akan tetapi ini merupakan batasan dari proses sosialisasi anak yang tidak bisa dihindari. Di samping itu juga usia-usia yang sudah tidak produktif, merasa masih mampu melakukan pekerjaannya seperti di sektor wiraswasta yang ditekuni oleh sebagian besar penduduk desa Anjun, yang tidak mengenal batas usia produktif atau tidak produktif Sebagai pengusaha, seseorang masih sanggup mengatur perumahannya, dalam usianya sudah tua (lebih dari 55 tahun).

Tampaknya para orang tua masih memiliki pola berpikir sederhana, di mana pendidikan dianggap tidak begitu penting untuk masa depan. Tanpa pendidikan tinggi pun dapat menjadi pengusaha (keramik), sekolah tinggi belum tentu mendapat pekerjaan yang layak. Anak-anak lebih banyak diarahkan pada pendidikan keluarga (Informal). Dengan modal pengalamannya, para orang tua berusaha memberikan altenatif terbaik bagi anak sebagai generasi penerus pekerjaannya. Akhirnya anak-anak tidak mempunyai semangat untuk sekolah yang tinggi jika tidak ada do­rongan dari pihak orang tua.

Pendidikan agama dianggap cukup penting bagi penduduk, karena agama memberikan dasar perilaku dan beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kekhawatiran orang tua terhadap makin merajalelanya kenakalan remaja, menyebabkan mereka ketat menerapkan nilai-nilai spiritual kepada anak-anaknya.

         Kehidupan Ekonomi

Matapencaharian pokok penduduk desa Anjun berdasarkan data dari Kantor Desa Anjun, mayoritas dari sektor industri, yaitu sekitar 170 orang. Masyarakat dari sektor perdagangan 100 orang dan sektor pertanian 45 orang, yang terdiri dari petani pemilik sawah 15 orang, petani peladang tanah kering 10 orang dan buruh tani 20 orang. sedangkan pegawai negeri orang yang terdiri  dari berbagai instansi seperti Depdikbud 5 orang, guru 8 orang, Perindustrian 3 orang, Depag 1 orang, Puskesmas 1 orang, Peternakan 1 orang, Kehakiman 1 orang, dan dari PU 1 orang. Yang mengabdi di bidang kesehatan ada 3 orang, yaitu sebagai dukun bayi. Sebagai anggota ABRI 3 orang yang terdiri dari AURI dan Polri. Pensiunan baik dari pegawi negeri maupun dari ABRI sekitar 8 orang. Terakhir yang bergerak di bidang per­tukangan 15 orang yang terdiri dari tukang kayu 6 orang, tukang batu 6 orang, tukang cukur 1 orang, tukang jahit 1 orang, dan tukang jam 1 orang. Warga Anjun juga ada yang bergerak di bidang angkutan yaitu 1 orang dan untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan di bawah ini.

Sektor Industri merupakan pillhan terbanyak penduduk. Hal ini dapat dimengerti mengingat potensi dan yang cukup besar untuk mengusahakan keramik. Tidak seperti daerah pedesaan lain, di mana pertanian merupakan sumber yang diandalkan dalam kehidupan masyarakatnya. Masyarakat desa Anjun kurang tertarik untuk menekuni bidang pertanian, kecuali bagi petani pemilik. Tanah pertaniannya sebagaian besar masih dilakukan dengan cara sederhana, tergantung pada curah hujan. Oleh karena itu persawahannya disebut “Sawah tadah hujan”.

Kehidupan perekonomian masyarakat Anjun sangat tergantung kepada iklim, misalnya pada musim banyak hujan dan musim kemarau yang panjang akan menyebabkan perkembangan ekonomi mereka menurun. Ini dikaitkan dengan keterbatasan waktu untuk melakukan kegiatan dalam mempersiapkan bahan-bahan baku seperti tanah liat dan lain-lain. Sedangkan bila cuaca dalam ke da­an biasa, ini memang lebih menguntungkan secara ekonomis.

         Kehidupan Sosial

Kehidupan sosial pada masyarakat desa Anjun sebagian besar bermatapencaharian dari industri keramik ini, tidak begitu ber­beda dengan kehidupan sosial pada masyarakat agraris pada umumnya. Keakraban di antara warga masyarakatnya masih ter­lihat dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya ada di antara warga yang akan membangun rumah, mereka akan saling membantu dalam bantu tenaga. Tolong menolong pada masyarakat desa Anjun ini tidak saja pada saat seseorang mendapat suka tetapi juga bila diantara warganya ada yang mengalami duka atau musibah.

Bila seorang warga ada yang meninggal dunia, maka ada ter­sedia uang kas RW yang memang dicadangkan untuk kebutuhan tersebut. Fasilitas tersebut tidak semua.warga yang memperguna­kan, tetapi umumnya hanya dimanfaatkan keluarga-keluarga yang tidak mampu saja. Dari pembelian perlengkapan orang yang me­ninggal tersebut sampai penguburan selesai, dapat ditanggulangi oleh uang itu, sehingga keluarga yang berduka itu tidak terbebani. Untuk kebutuhan kas tersebut, setiap warga dipungut iuran se­iklasnya setiap bulan. Begitu pula bila ada di antara warga yang mengalami sakit, warga lainnya akan menengok dengan membawa sekedar bawaan bagi si sakit. Sedangkan bagi para pelayat, biasa­nya mereka akan menyumbang beras atau uang ataupun tenaga untuk meringankan beban yang ditinggal pleh salah seorang anggota keluarganya.

        Kehidupan Budaya

Masyarakat desa Anjun seperti juga masyarakat Jawa Barat umumnya, yaitu melaksanakan bermacam-macam upacara tidak saja upacara yang berkaitan dengan matapencaharian hidup, tetapi juga upacara dalam lingkaran hidup seseorang atau lazim disebut dengan daur hidup. Upacara-upacara daur hidup ini selain dilaksanakan oleh keluarga inti juga melibatkan keluarga luas.

Keluarga inti atau batih merupakan kelompok kerabat terkecil dalam masyarakat Sunda. Keluarga ini terdiri dari dua orang yang mempunyai hubungan karena pernikahan ditambah dengan anak-­anak mereka yang belum kawin. Atau terdiri dari ayah, ibu dan anak yang belum menikah. Orang Sunda menarik garis keturunan secara bilaterial, yang menarik garis keturunan baik dari laki­laki maupun dari perempuan. Di sini seseorang merasa kerabat dari keluarga ayahnya dan keluarga ibunya. Selain itu orang Sunda mengenal 7 istilah kekerabatan untuk menyebut 7 angkatan ke atas (yang lebih tua) dan 7 angkatan kebawah (yang lebih muda dari kuring). Kelompok kerabat tersebutlah turut terlibat dalam kegiatan-kegiatan upacara. Upacara-upacara ini dilaksanakan antara lain bila seseorang mengalami masa peralihan dari tingkat yang satu ke tingkat yang lainnya. Oleh karena peralihan dari tingkat-tingkatan itu dianggap masa kritis yang penuh dengan bahaya gaib, maka itu perlu diadakan penolak bahaya gaib ter­sebut. Hal ini oleh masyarakat desa dihadapi dengan saling tolong menolong. Oleh B. Malinowski menemukakan bahwa selain upacara kematian, upacara-upacara lain seperti perayaan pesta­-pesta yang dilakukan secara tolong menolong, sebetulnya dilaku­kan secara terpaksa oleh suatu jasa yang pernah diberikan ke­padanya dan dia menyumbang untuk mendapat pertolongan di kemudian hari, Bahkan dalam berbagai hal orang desa yang mem­perhitungkan secara tajam tiap jasa yang pernah disumbangkan kepada sesamanya itu dengan harapan bahwa jasa jasanya itu akan dikembalikan pada waktu yang tepat. Tampa bantuan se­sama orang tidak bisa memenuhi keperluan, hidupnya dalam masyarakat yang berbentuk komunitas kecil.

Anjun merupakan salah satu desa dari 16 desa yang berada di wilayah Kecamatan Plered. Kata Plered itu berasal dari ucapan orang Sunda palered yaitu sebutan atau nama pada cara membawa sejumlah batang bambu dengan pedati yang ditarik sapi. Pedati adalah seperti gerobak beroda dua yang ditarik dengan kuda atau sapi.

Berbeda dengan asal usul dari kata Anjun, menenai hal ini ada beberapa pendapat: Pendapat pertama mengatakan bahwa pada zaman walisanga, ada seorang ahli dalam menciptakan dan membuat Anjun yang disebut Pangeran Panjunan. Pengeran itu sebenarnya bernama Syayid Abdurahmad yang tinggal di Paka­longan Cirebon. Ia seorang ulama besar atau wali penyebar agama Islam di daerahnya, dan mempunyai banyak santri dari daerah lainnya. Beliau mempunyai dua orang saudara yaitu Sayid Abdurrahim seorang jaksa di Cirebon dan Nyai Pamurangan. Sambil berdakwah dan menyebarkan agama Islam, Pangeran Panjunan juga mengajarkan cara membuat barang-barang gerabah atau tembikar dari tanah liat, seperti periuk, paso, kendi, cobek (coet), kecuali clan lain-lain.

Kemudian oleh murid-murid Pangeran Panjunan disebarkan lagi ke beberapa tempat di Jawa Barat, diantaranya Kerawang dan Purwakarta. Tempat-tempat yang dipakai membuat tembikar, kemudian diberi nama Panjunan atau Anjun, sebagai kenangan atau mengingat jasa-jasa Pengeran Panjunan. Di antaranya kam­pung Anjun di Kecamatan Plered Kabupaten Purwakarta.

Pendapat Kedua mengatakan bahwa kampung Anjun berasal dari kata Panjunan dan Panjunan tersebut adalah nama seseorang Pangeran yang kabarnya keturunan dari raja Mesir seperti yang terlihat pada bagan di bawah ini. Pada dasarnya masyarakat Anjun adalah masyarakat yang dapat berusaha sendiri untuk mendapatkan hasil, guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka secara turun temurun telah menjadi petani, seperti Haji walaupun mungkin tidak memiliki lahan per­tanian yang sangat luas, asalkan cukup untuk memenuhi kebutuh­an keluarga. Hanya sayangnya pertanian di desa Anjun dan sekitarnya sebagian besar masih merupakan sawah tadah hujan. Dalam arti pada musim penghujan mereka mengolah lahan pertaniannya, dan pada musim kemarau mereka terpaksa mengang­gur karena lahan pertaniannya kering sehingga tidak dapat diolah untuk ditanami sayur mayur. Kadang-kadang saja mereka mena­nam palawija, itu pun masih terasa kesulitan karena benih pala­wija pada mulanya juga memerlukan air sekalipun tidak harus sebanyak yang diperlukan untuk tanaman padi.

Perkembangan pola berpikir masyarakat, tidak merubah kebiasaan yang hidup dan berlaku secara terintegrasi dalam ke­hidupan mereka. Pernyataan yang dimaksud adalah kebiasaan untuk saling tolong-menolong di antara sesama anggota masya­rakat. Kebiasaan ini merupakan bagian dari kehidupan sosial yang sudah terjalin dari masa ke masa.

Satu hal yang tetap memberikan identitas keramik Anjun adalah warna dasar merah bata. Ini yang justru lebih digandrungi oleh peminat yang selalu menghendaki kekhasan suatu daerah. Tidak hanya itu, warna dasar merupakan ciri bahan mentah yang berasal dari lingkungan alamnya.

Hakekat hidup manusia Anjun cocok dengan nilai budaya yang kedua, yaitu masyarakat tidak begitu saja menerima apa yang alam berikan kepada mereka. Mereka berupaya bagaimana agar alam lingkungan dapat memberikan nilai lebih bagi mereka, sehingga manfaatnya dapat dinikmati oleh keseluruhan masya­rakat, tidak hanya terbatas pada golongan-golongan tertentu semata.

Perubahan secara fisik tampak jelas dari perubahan barang-­barang yang diproduksi pengusaha Anjun, sekalipun untuk pe­ngembangannya harus dilakukan secara berangsur-angsur. Hal ini disebabkan oleh masyarakat, khususnya pengrajin kurang memiliki ide untuk menciptakan motif atau ragam Was baru. Me­reka cenderung meniru motif ciptaan daerah lain dengan tetap memberikan identitas Anjun. Sepertinya mereka ini pernah berakulturasi, menyambut baik unsur budaya asing, kemudian memadukan dengan kebudayaan setempat tanpa harus mening­galkan kebudayaan aslinya.

Perkembangan komunikasi dan transportasi merupakan faktor pendukung mempublikasikan kerajinan masyarakat Anjun, di samping akomodasi dan sarana lainnya. Tidaklah mudah mem­publikasikan sesuatu barang, karena harus bersaing dengan daerah lain penghasil barang yang sama. Ini memerlukan kerja keras dari masing-masing pengusaha maupun masyarakatnya, Keberhasil­annya tidak luput dari keikutsertaan masyarakat secara keseluruh­an sebagai pendukung kebudayaannya.

Dari pengamatan langsung dipreroleh pola berfikir masyarakat dipengaruhi secara alamiah oleh karena adanya komunikasi de ngan unsur budaya asing, bukan karena tingkat pendidikan yan dicapai. Pendidikan dianggap tidak melatarbelakangi jiwa wiraswasta di bidang keramik ini, yang jelas pengalaman yang di turunkan orang tua dan generasi sebelumnya lebih kuat memc tovasi masyarakat untuk menekuni bidang yang satu ini.

Kemajuan industri keramik, berpengaruh pada kehidupar para buruh. Buruh mampu meningkatkan taraf hidup keluarganya Kelangsungan hidup keluarganya bersumberkan pada penghasilar sebagai buruh/pengrajin semata. Pemenuhan kebutuhan ekonomi tidak saja terbatas pada kebutuhan akan pangan dan sandang namun juga papan. Tidak sampai disitu, kemampuan menyekolahkan anak clan membiayai kesehatan anak sudah merupa. kan perubalian hidup yang sangat membahagiakan.

Perubahan pekerjaan petani menjadi wiraswasta adalah tanggapan aktif mereka terhadap lingkungannya.

Masyarakat Anjun menselaraskan hubungannya dengan lingkungan, di mana pertanian masih tetap diakui keberadaan nya, dan lahan yang untuk sementara tidak dapat diolah untul pertaruan karena musim, berpotensi sebagai bahan mental pembuatan keramik. Jiwa wiraswasta dimiliki masyarakat yang menghendaki nilai tambah dalam hidupnya, tanpa berakibat menjauhnya hu bungan dengan Tuhannya. Secara langsung maupun tak langsung kewiraswastaan mempengaruhi kehidupan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat, Wiraswasta membuka kesempatan kerja bagi tenaga kerj, produktif yang tengah atau tidak lagi bekerja sebagai burul tani. Dengan demikian para buruh tani tidak merasa kehilangan sumber penghidupan dan kehidupannya. Mereka masil bisa bekerja dengan mengandalkan jasanya kepada pengusaha keramik, memang yang diprioritaskan menjadi buruh kerajinan ini adalah masyarakat setempat. Maksudnya agar tidak terjadi pengangguran yang dapat mempersulit kehidupan ekonomi keluarga mereka.

Sumber :

Corak dan Pola Kehidupan Sosial Ekonomi: Studi tentang Kewiraswastaan pada Masyarakat di Plered. Pengarang/Penulis: Sri Saadah Soepono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s