PERILAKU MASYARAKAT DI KAWASAN INDUSTRI PULOGADUNG

Posted: June 13, 2011 in Tugas-Tugas Kuliah (2011-2012)

Pengertian Industrialisasi sering dikaitkan dengan perubahan – perubahan di bidang teknologi, seperti adanya proses pengenalan dan perluasan metode teknis, industrialisasi menciptakan jenis peranan yang kompleks, dan menekankan pada berbagai ragam keahlian yang di perlukan dalam proses – proses produksi, industrialisasi secara perlahan dapat merubah struktur sosial yang ada di masyarakat, misalnya nilai sikap, pemikiran, kepercayaan, dan pola tingkah laku di dalam kelas sosial.

Pulogadung dijadikan sebagai kawasan industri bukan berarti memandamg kondisi dan kehidupan masyarakat setempatnya, tetapi karena berkaitan dengan peluang – peluang keuntungan pasar yang bisa diraih antara lain : SDA yang bisa di eksploitasi, SDA yang dapat di serap, peluang pasar yang dapat diraih, kemudahan transportasi dan kelancaran birokrasi yang dimiliki pulogadung sebgai alasan utama dalam pembangunan kawasan industri.

Tujuan promosi pertumbuhan industri pulogadung adalah untuk mempercepat proses industrialisasi di ibukota jakarta sesuai dengan program pembangunan negara, untuk meningkatkan serta menampung hasrat penanaman modal asing dan dalam negeri, memungkinkan lokasi industri – industri yang ada dan tersebar letaknya sehubungan dengan perencanaan kota, memperluas lapangan dan kesempatan kerja.

Berkenaan dengan ditetapkannya pulogadung sebagai kawasan industri yang merupakan kegiatan pembangunan yang terencana tersebut, diperkirakan serangkaian dampak sosial akan terjadi yang tentunya akan merubah sendiri kehidupan, sehingga konflik akan timbul. Dampak ini diduga akan terjadi sebagai akibat dari serentetan pengaruh proses industrialisasi, juga teknologi baru yang diperkenalkan pada kawasan tersebut dapat pula membawa pengaruh terhadap sistem sosial yang berlaku dimasyarakat setempat.

Penulisan ini mencoba memberikan gambaran tentang perilaku kehidupamn masyarakat yang bermukim disekitar kaasn industri pulogadung sebagai akibat sosial yang timbul di kawasan tersebut berkenaan dengan penetapan pulogadung sebagai kawasan industri.

Pulogadung sebelum dinyatakan sebagai kawasan industri, penduduknya yng mendiami daerah ini memiliki ciri – ciri sosial, adat istiadat, dan adat kebiasaan yang serupa dengan masyarakat pinggitan kota jakarta lainnya. Hal ini dikarenakan mereka berasal dari suatu rumpun etnis yang sama yakni masyarakat betawi.  Sistem nilai budaya di Pulogadung tumbuh di pola yang sama kecuali di bagian tertentu dari kelurahan jatinegara. Kata kaum diartikan sebgai golongan bangsawan atau keturunan raja – raja, merupakan kiasan yang menunjukkan adanya perbandingan khusus antara kelurahan Jatinegara kaum dengan kelurahan – kelurahan lainnya yang ada disekitarnya. Konon daerah Jatinegara kaum ini merupakan daerah pertahanan terakhir dan sekaligus tempat persembunyian pangeran jayakarta pendiri kota jakarta serta pengikiut – pengikutnya disaat keruntuhan jayakarta pada tahun 1619.

Bahasa yang digunkan untuk berkomunikasi diantara warga terutama dalam bentuk percakapan adalah berbahasa Indonesia dengan dialeg betawi. Sekilas bentuk bahasa percakapan ini memiliki persamaaan dengan bahasa indonesia. Fasilitas pendidikan berupa bangunan atau gedung seolah sangat jarang ditemui, dikelurahan pulogadung hanya terdapat satu bangunan sekolah dasar dan satu bangunan madrasah ibtidaiyah setingkat sekolah dasar kelurahan jatinegara memiliki 8 bangunan sekolah dasar 3 bangunan madrasah ibtidaiyah dan 1 bangunan sekolah lanjutan pertama yaitu SMP 158 yang terletak disamping kantor kelurahan.

Pulogadung dijadikan sebagai suatu kawasan industri berdasarkan SK gubernur KDKI, maka dengn dijadikannya Pulogadung sebagai suatu kawasan industri disekitar kawasan indusrtri Pulogadung dan khususnya disekitar kelurahan Rawaterate telah terjadi peningkatan jumlah dan kepadatan pendududuk perluas areal maupun perumah hunian. Dalam arti kesempatan untuk bekerja terbuka disebabkan kawasan ini merupakan kawasan untuk ajang perindustrian yang mana seiap tahunnya pabrik – pabrik tumbuh dan berkembang.

Kehidupan ekonomi masyarakat pinggiran kota jakarta di pulogadung khususnya di kelurahan Rawaterate yang beretnis betawi, sebelum daerahnya dijadikan suatu kawasan industri sumber kehidupan ekonominya berasal dari hasil pertanian. Pertanian yang merekalakukan adalah berladang, antara lain menanam ubi jalar, ketela pohon dan sayur – sayuran yang kemudian hasil dari bertani itu mereka jual ke pasar – pasar.

Kehidupan sosial daerah kelurahan Rawaterate sebelum menjadi daerah kawasan industri merupakan daerah yang dihuni oleh masyarakat bersifat homogen yakni masyarakat betawi. Mereka mencerminkan sebagai masyarakat betawi pada umumnya. Mempunyai adat istiadat yang cukup menarik. Sebagai suatu masyarakat baik penduduk asli betawi maupun pendatang hidup membaur mereka saking berinteraksi dan mewujudkan komunitas, namun demikian masing – masing tetap mempertahankan adat istiadatnya, terutama pada saat – saat tertentu seperti pada saat perkawinan.

Kehidupan budaya di kelurahan Rawaterate sangat kompleks karena didaerahnya merupkan salah satu kawasan indusri Poulogadung yang letaknya di daerah jakarta timur. Akibtnya orang – orang yang tinggal didaerah pedesaan terdorong untuk datang di tempat itu.

Dengan ditetapkan Pulogadung sebagai kawasan industri, berarti daerah Rawaterate termasuk di dalamnya. Karena daerah Rawaterate cukup potensial sebagai daerah industri. Hampir 65 % tanah di kelurahan rawaterate telah diguanakan untuk kawasan industri.

Berbagai prasarana dan sarana yang tersedia di daerah ini sebagai akibat dari perindustrian kawasan tersebut. Seperti dibuka atau diperlebarnya jalan tembus dari Pulogdung menuju buaran, juga tersedianya sekolah dasar negeri SLTP dan SLTA swasta juga sarana telekomunikasi, bank, balai kesehatan maupun gedung perkantoran lainnya.

Secara sosial masyarakat yang bertempat tinggal di kawasan industri Pulogadung dan khususnya kelurahan Rawaterate telah mengalami perubahan dalam mata pencaharian hidup yang dulu betumpu pada pertanian, sekarang menjadi perindustrian. Dalam berdagang mereka cenderung membuka usaha jualan bahan bangunan, maupun warung makanan.

Sebagai daerah industri seperti telh diketahui masyarakat Rawaterate tidak lagi hanya penduduk asli Betawi saja, tetapi juga berasal dari berbagai daerah lain di Indonesia.

Nilai – Nilai atau adat istiadat yang dimiliki masyarakat pendatang atau masyarakat Betawi di kelurahan Rawaterate tidak selalu dapat di pertahankan sebagaimana adanya apalagi dengan menjadi daerah industri, daerah Rawaterate tersebut menjadi bertambah terbuka sehingga berpengaruh pula pada kebiasaan atau adat istiadat yang dimiliki masyarakatnya.

Sumber : Maria, Siti. 1997. Perilaku Masyarakat di Kawasan Industri Pulogadung. Jakarta: Depdikbud/Dikti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s