DATA KEMENPORA

Posted: December 31, 2011 in Tugas-Tugas Kuliah (2011-2012)

            DATA KEMENPORA

 

 

Pelatihan Tenaga Keolahragaan

Memberikan    keterampilan    sebanyak–banyaknya    melalui    pelatihan adalah mata rantai yang tak bisa terpisahkan dalam meningkatkan dan mengembangkan tenaga dan pembina keolahragaan. Satu mata rantai yang tak terkait namun menjadikan permasalahan dan kendala tersendiri dalam pelaksanaan kegiatan antara lain :

1. Masih  rendahnya  jumlah  dan  kualitas  pelatih  dan  pengelolala olahraga

2. Penyebaran jumlah dan kualitas pelatih tidak merata

3. Rendahnya profesionalisme Tenaga dan Pembina Keolahragaan

4. Masih banyak penyelenggaraan kegiatan yang belum berjenjang

5. Belum maksimalnya kerjasama dengan instansi terkait

6. Masih ada tumpang tindih program kegiatan.

7. Belum memadainya data base tenaga dan pembina keolahragaan yang akurat.

8. Kemampuan berbahasa Inggris bagi pengelola dan pelaku olahraga masih sangat kurang.

9. Masih  lemahnya  sistem  rekrutment  para  pelatih  pada  promosi degradasi.

10. Anggaran    dana    peningkatan     Mutu    Tenaga     dan    Pembina Keolahragaan baik di Pusat maupun di daerah masih sangat terbatas.

11. Masih  sangat  terbatasnya  Tenaga  dan  Pembina  Keolahragaan khususnya bagi wasit dan juri yang tersedia, untuk promosi ke level internasional.

Pada   tataran    operasional  untuk    mewujudkan        rencana    kegiatan diperlukan  rangkaian           tahapan–tahapan secara       berjenjang         serta berkesinambungan          agar      dapat           tercipta          prestasi  olahraga         yang membanggakan. Berkaitan dengan hal tersebut dari tahun 2006 sampai 2009 pemerintah telah melatih 2.112 orang tenaga pelatih baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Pelatihan tidak terbatas pada pelatih olahraga namun juga kegiatan pwndukung seperti pelatih kordinator Relawan Olahraga, Instruktur Pengembangan Terapi Masage, dan pelatih laboratorium olahraga. Pelatihan tersebut menghasilkan tenaga bertaraf nasional dan internasional. Data selengkapnya disajikan dalam tabel berikut :

Jumlah Tenaga Olahraga yang Dilatih menurut Jenisnya, Tahun 2006-2009

No Jenis Pelatihan 2006 2007 2008 2009 Jumlah
(1)

(2)

(3) (4) (5) (6)

(7)

Nasional 180 807 499 452 1938
1 TOT Pelatih Tingkat Dasar 60 60 120
2 TOT Pelatih Tingkat Muda 60 40 100
3 TOT Pelatih Tingkat Madya 84 84
4 TOT Koordinator RelawanOlahraga 80 119 199
5 TOT Instruktur PengembanganTerapi Masage 40 50 90
6 Pelatihan Tenaga LaboratoriumOlahraga 40 40 80
7 Pelatihan Masage 86 25 111
8 Pelatihan CPR 50 25 75
9 Pelatihan Cedera Olahraga 40 40
10 Pelatih Analisa Data 50 80 130
11 Pelatihan Tenaga Relawan 80 80
12 Pelatihan Gizi Olahraga 37 45 82
13 Pelatihan Pelatih Tingkat Dasar 121 80 67 268
14 Pelatihan Pelatih Tingkat Muda 107 80 40 227
15 Pelatihan Pelatih Tingkat Madya 42 42
16 Pelatihan Pelatih Fisik Level I Nasional 80 130 210
Internasional 31 87 56 174
17 Instruktur Teknis Laboratorium

8

8

18 Administrator Sport Management

9

9

19 Pelatihan Pelatih & Wasit Catur

4

4

20 Pelatihan Pelatih & Wasit Woodball

5

5

6

16
21 Pelatihan Pelatih Bowlling 20 20
22 Pelatihan Wasit Panahan

3

3

23 Pelatihan Wasit Silat 22 22
24 Pelatihan Wasit Senam

5

5

25 Pelatihan Laboratorium Olahraga

8

8

26 Strenght & Condition Level I (ASCA) 10 17 37 64
27 Strenght & Condition Level II (ASCA) 10 10
28 Magang Pelatih di Luar Negeri
(Renang, Cano, dan Anggar)

3

2

5

             Jumlah                                                 180       838         586       508        2112

Sumber: Kemenpora 2009 

Bab  berikut  membahas  mengenai  perhitungan  dan  hasil  proyeksi pemuda pada kurun 2005 – 2015. Proyeksi pemuda dipandang perlu disajikan dalam laporan ini karena dengan pengesahan Undang-Undang Kepemudaan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), seseorang dikatakan pemuda jika berumur 16 hingga 30 tahun. Dengan ditetapkan UU Kepemudaan diharapkan dapat dijadikan pertimbangan untuk membuat perencanaan        pembangunan    kepemudaan,       pelayanan kepemudaan,              pelayanan              kepemudaan    dalam    bentuk    koordinasi, melakukan  pendanaan  kepemudaan bersama  pemerintah,  organisasi kepemudaan dan masyarakat. Isu sentral tentang kepemudaan tidak lepas      dari   permasalahan pendidikan   dan                 ketenagakerjaan (pengangguran) sehingga salah satunya terkait kewajiban pemerintah di dalam mengambil kebijakan bidang kepemudaan. Oleh karena itu untuk membuat perencanaan yang lebih terarah dalam menyusun kebijakan ke depan diperlukan proyeksi. Pembahasan meliputi metode proyeksi, sumber data dasar proyeksi, asumsi-asumsi yang digunakan dalam membuat proyeksi, dan pembahasan hasil proyeksi.

Metode Proyeksi

Penghitungan proyeksi pemuda didasarkan pada proyeksi penduduk Indonesia tahun 2005 – 2015 yang telah dilakukan oleh BPS. Proyeksi penduduk  bukan merupakan ramalan jumlah penduduk tetapi suatu perhitungan ilmiah yang didasarkan pada asumsi dari komponen- komponen. Perubahan penduduk seperti kelahiran, kematian dan perpindahan  adalah  kejadian  yang  paling  mungkin  terjadi  selama periode proyeksi. Ketiga komponen inilah yang menentukan besarnya jumlah penduduk dan struktur umur umur penduduk di masa yang akan datang  di  setiap  provinsi.  Khusus  komponen  perpindahan  meskipun secara nasional dapat diabaikan, akan tetapi pada level provinsi mustahil untuk mengabaikannya. Kemustahilan ini didukung dengan pola    persebaran penduduk yang menyebabkan adanya peningkatan persentase penduduk di luar Pulau Jawa. Bertambahnya komposisi persebaran penduduk di luar Pulau Jawa diyakini bukan hanya semata- mata akibat dari perubahan komponen alamiah, kelahiran dan kematian. Melainkan dipengaruhi pula oleh perpindahan penduduk, terutama dengan adanya proram transmigrasi.

Proyeksi   penduduk   Indonesia   disajikan   dalam   kelompok   umur   5 tahunan, mulai dari kelompok umur 0-4 tahun sampai kelompok umur

75+.  Untuk menghitung proyeksi pemuda yaitu penduduk yang berumur

16-30 tahun, maka cukup dengan memecah kelompok umur 15-19 dan

30-34 sehingga diperoleh kelompok umur 16-30 tahun.     Pemecahan kelompok umur dilakukan dengan formula interpolasi Korup King’s. Perhitungan dilakukan pada data setiap provinsi per jenis kelamin. Jumlah pemuda per jenis kelamin Indonesia merupakan jumlah pemuda menurut jenis kelamin seluruh provinsi.

Hasil Proyeksi

Perhitungan  proyeksi  menghasilkan  perkiraan  jumlah  pemuda  pada tahun 2015 sekitar 62,2 juta jiwa. Ini berarti jumlah pemuda bertambah sekitar 400.000 dibandingkan jumlah pemuda pada tahun 2005 yang berjumlah sekitar 61,8 juta jiwa. Hasil proyeksi pemuda menurut jenis kelamin per propinsi dari tahun 2005 sampai 2015

Komposisi pemuda menurut jenis kelamin menunjukkan perbandingan yang seimbang. Hal ini ditunjukkan dengan besarnya angka RJK  yang mendekati 100.   Pada tahun 2005 RJK pemuda sebesar 98,6, artinya setiap  100  pemuda  perempuan akan  diimbangi  dengan  98  atau  99 pemuda laki-laki. Angka tersebut hampir tidak  berubah untuk  tahun- tahun berikutnya.

            Perbandingan Jumlah Pemuda Tahun 2005 dan Proyeksi Pemuda

               Tahun 2010 dan 2015 (dalam Ribuan)

Jenis Kelamin

Jumlah Pemuda

2005                      2010                  2015


Laki-laki                                                30.969,5                31.675,3           31.562,4

Perempuan                                           31.140,4                 31.199.8            30.677,8

Total                                                  61.836,9              62.875,1          62.240,2

Sex Ratio                                                  98,6                    101,5                 102,9

Sumber: BPS

Distribusi pemuda menurut provinsi sangat bervariasi. Seperti halnya persebaran penduduk, konsentrasi pemuda kebanyakan di Pulau Jawa terutama di Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah.  Data proyeksi pemuda menurut jenis kelamin per propinsi tahun 2005 – 2015

 

DAFTAR PUSTAKA

1998,    Pokok-Pokok    Pelaksanaan     Program     Gerakan     Terpadu Pengentasan  Kemiskinan  (Gerdu  Taskin),   Kantor  Menteri Negara  Koordinator Bidang  Kesejahteraan Rakyat  dan Pengentasan Kemiskinan Republik Indonesia, Jakarta.

2002,     Dasar-Dasar Analisis Kemiskinan,  Badan Pusat Statistik-World Bank Institute, Jakarta.

Laporan  Nasional    Sport       Development     Index    Indonesia    2006,          Kementerian    Negara    Pemuda     dan       Olahraga        Indonesia (Kemenegpora), Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s