HUBUNGAN KONSEP DAN OPERASIONALISASI KONSEP

Posted: March 6, 2012 in Tugas-Tugas Kuliah (2011-2012)

HUBUNGAN KONSEP DAN PENGUKURAN OPERASIONALISASI KONSEP

Konsep adalah istilah dan definisi yang digunakan untuk menggambarkan gejala secara abstrak, contohnya seperti kejadian, keadaan, kelompok. Diharapkan peneliti mampu memformulasikan pemikirannya kedalam konsep secara jelas dalam kaitannya dengan penyederhanaan beberapa masalah yang berkaitan satu dengan yang lainnya. Dalam dunia penyelidikan dikenali dua pengertian mengenai konsep, yaitu pertama konsep yang jelas hubungannya dengan realiti yang diwakili, contoh : jenis kelamin, asal-usul. Kedua, konsep yang abstrak hubungannya dengan realiti yang diwakili, contohnya : kecerdasan, religiusitas

Setelah peneliti memutuskan problem apa yang akan diteliti, dan siapa yang menjadi anggota sampel, maka ia harus menentukan apa indikator-indikator yang akan digunakan, dalam banyak hal ini sering terjadi masalah, bila variabel yang diteliti adalah jenis kelamin, asal-usul, agama, tingkat pendidikan terakhir, ini mudah sekali, hanya diukur dengan satu pertanyaan dalam kuesioner, tetapi bagi variabel yang lebih abstrak pengukurannya menjadi lebih sulit, misal mengukur tingkat kekuatan iman orang beragama, tidak cukup dengan satu pertanyaan.

Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam pengukuran, pertama adalah makna pertanyaan, setiap pertanyaan harus mempunyai makna, artinya setiap responden harus mempunyai satu penafsiran yang sama dengan yang dimaksud didalam pertanyaan itu. Misal seorang peneliti mengukur tingkat religiusitas seseorang. Konsep yang digunakan abstrak, bila tidak dirinci dengan sejumlah indikator maka hasilnya penelitian tidak dapat membuat perbandingan antara responden satu dengan responden lainnya. Kedua, responden jangan sampai membuat penilaian terhadap diri mereka sendiri didalam kevakuman sosial karena tidak dapat dipercayai hasilnya, contoh yang menarik ialah hasil penelitian antara perbedaan dua kota di Italia , Roma dengan Milan. Untuk mengukur minat mereka di bidang politik.

Kerangka konsep merupakan model konseptual yang berkaitan dengan bagaimana seorang peneliti menyusun teori atau menghubungkan secara logis beberapa faktor yang dianggap penting untuk masalah. Kerangka konseptual penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu dengan konsep yang lainnya dari masalah yang ingin diteliti (Setiadi, 2007). Dan terdapat 2 jenis Variabel yaitu variabel independen dan variabel dependen.

Selain itu, ada juga menerangkan tentang definisi operasional. Operasional ialah batasan pengertian tentang variabel / pemboleh ubah yang dikaji di mana dalamnya sudah mencerminkan indikator – indikator yang akan digunakan untuk mengukur variabel yang bersangkutan. Dalam konsep definisi operasional ini terdapat juga Variabel yang biasa digunakan yaitu:

  • Variabel  (independen dan dependen)
  • Definisi konseptual
  • Indikator yang digunakan
  • Alat ukur yang dijalankan ( bagaimana cara mengukur )
  • Penilaian alat ukur

Proses menginterpretasikan dan mengunakan konsep yang abstrak menjadi konstruk dalam mendekati masalah penelitian disebut dengan operasionalisasi konsep. Supaya dapat digunakan untuk meneliti opersionalisasi konsep tersebut diikuti dengan pengukuran sehingga menjadi variabel, sedangkan operasionalisasi variabel dapat diterjemahkan sebagai gambaran hubungan antara variabel, yang nantinya digunakan sebagai dasar pengujian hipotesis.

Dengan mengetahui variabel penelitian (sub variabel kalau diperlukan) dapat disusun dimensi dan indikator, sehingga dapat digunakan sebagai dasar penyusunan instrumen penelitian (alat pengumpulan data), sedangkan mesurement (pengukuran) merupakan kesepakatan yang digunakan untuk memberikan bobot dengan menetapkan bilangan secara sistematik pada variabel penelitian. Misalnya ukuran sebagai instrumen untuk mengukur panjang dengan skala cm, termometer adalah instrumen yang digunakan untuk mengukur suhu dengan skala drajat celcius. Sedangkan untuk mengukur fenomena sosial digunakan suatu instrumen misalnya, skala sematik diferensial, skala Guttman, skala Borgadus, skala Thurstone, summated rating scale, self rating scale, semantic differential.

Selain itu, kami juga diajar tentang Skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan Skala Likert, variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pertanyaan atau pernyataan. Jawaban setiap item instrument yang menggunakan Skala Likert mempunyai grade dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata antara lain:

Sangat Penting (SP), Penting (P), Ragu-ragu (R), Tidak Penting (TP), Sangat Tidak Penting (STP). Untuk penilaian ekspektasi responden, maka jawapan itu dapat diberi skor, misalnya

a) Sangat Penting (SP)                      5

b) Penting (P)                                     4

c) Ragu-ragu (R)                                3

d) Tidak Penting (TP)                       2

e) Sangat Tidak Penting (STP)        1

Untuk penilaian persepsi responden, maka jawapan itu diberi skor, misalnya:

a) Sanagat Baik (SB)                          5

b) Baik (B)                                           4

c) Ragu-ragu (R)                                3

d) Tidak Baik (TB)                             2

e) Sangat Tidak Baik (STB)              1

Seluruh konsep yang secara teoritis merupakan bagian dari gejala sosial yang diteliti atau variabel yang menjadi objek pengamatan. Secara rinci telah dijabarkan dalam kerangka teori dan kerangka pemikiran. Untuk selanjutnya  dalam memenuhi persyaratan analisis data sesuai dengan permasalah dan tujuan penelitian, dilakukan definisi maupun pengukuran (operasionalisasi) terhadap variabel-variabel tersebut.

Operasional konsep juga bisa di katakan upaya menerjemahkan konsep atau sesuatu yang abstrak ke dalam bentuk yang konkrit Dengan demikian, konsep yang telah diopersionalkan akan memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas.Untuk kebutuhan analisis deskriptif, maka operasionalisasinya lebih banyak menggunakan ukuran nominal. Ukuran nominal yang dimaksud yaitu dasar dari penggolongannya adalah kategori yang tidak tumpang tindih dan tuntas (Singarimbun, 1989 :103). Dalam  metoda penelitian survei, pengukuran merupakan kegiatan yang pokok, sebab tanpa pengukuran, objek penelitian tidak dapat dibandingbandingkan/dikelompokkan. Karlinger (1996) yang mengutip pendapat Steven mengatakan bahwa pengukuran adalah penggunaan angka-angka pada objek atau peristiwa menurut aturan tertentu.

Untuk  kepentingan  eksplanatif, pertanyaan yang menyangkut  variabel demografi dan komunikasi pemasaran diukur dalam skala varibel brand association nominal, sedangkan perceive quality dan brand loyalty diukur dalam skala  interval. Skala interval yang digunakan adalah skala Likert. Dalam skala Likert, variasi jawaban berjenjang mulai dari 1 sampai 6 dalam kutub yang berlawanan. Dalam hal ini responden secara bebas  menentukan jawaban mana yang sesuai dengan pendapatnya. Pertimbangan variasi jawaban genap (1 – 4) agar tidak ada jawaban  di tengah yang dapat diartikan ragu-ragu. Pertimbangan lain dalam memilih skala Likert karena kemudahan dalam menyusun kuesioner, interval respon yang lebih besar yang membuat skala ini dapat memberikan keterangan yang lebih nyata atau tegas tentang pendapat atau sikap responden tentang isu yang dipertanyakan, dapat memperlihatkan beberepa responsif alternatif konsumen terhadap suatu karakteristik produk (sangat setuju, setuju tidak setuju, sangat tidak setuju)

Adapun konsep yang akan diukur adalah :

     1. Operasionalisasi Konsep

  1. Karakteristik demografi, menggambarkan pengelompokan responden ke dalam kategori-kategori berdasarkan  jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, registrasi pertama, program studi, jenis pekerjaan. Jenis data yang dikumpulkan bersifat kualitatif kecuali  untuk umur dan penghasilan.
  2. Komunikasi Pemasaran, merupakan proses  mengkomunikasikan informasi atau ide dari suatu produk secara efektif kepada target khalayak (Mahasiswa UNS) yang dapat dipilih  oleh konsumen, apakah melalui televisi, surat kabar, majalah, brosur, billboard, teman  dan sebagainya.
  3. Brand Awareness,

Brand awareness adalah kesanggupan konsumen untuk mengenali, mengingat kembali suatu merek. Dalam penelitian ini yang ditanyakan adalah awareness konsumen (mahasiswa)  terhadap UNS  sebelum mereka terdaftar sebagai mahasiswa UNS. Dalam penelitian ini awareness dari mahasiswa dapat dikelompokkan dalam top of mind (merek yang pertama kali diingat), brand recall (mengingat kembali merek),  brand recognition, dimana kesadaran akan merek diukur dengan memberi bantuan misalnya dengan ciri-ciri merek. Pengukuran brand awareness  dengan mengumpulkan data nominal.

Daftar Pustaka :

  • Slamet,yulius .2008. Pengantar Penelitian Kuantitatif. Surakarta : lpp UNS dan UNS press
  • Sumber dari Internet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s