EKSISTENSI KERATON SURAKARTA DAN TRADISI KIRAB BUDAYA MALAM 1 SURO

Posted: November 25, 2013 in Artikel

Secara umum Keraton dapat dikatakan sebagai tempat kediaman Raja/Ratu. Keraton telah banyak memberi fondasi yang penting perihal tatanan sosial budaya bangsa Indonesia. Peran keraton pun sangat relevan jika dikatikan dengan pelestarian budaya, hakekat budaya sendiri adalah hasil cipta, rasa, dan karsa, sebagai sesuatu yang benar dan indah. Sebuah warisan adi luhung yang tak ternilai besarnya dan harus di pertahankan.

Selanjutnya, Budaya Jawa di jadikan sebagai acuan hidup yang tetap eksis sampai sekarang. Keraton tidak hanya mencakup tempat kediaman Raja, Keraton mempunyai prasarana pendukung semisal alun-alun, yang berarti peran Keraton mengembangkan budaya dalam kaitannya dengan dunia usaha maupun pariwisata. Alun-alun merupakan sarana interaksi antara produsen dengan konsumen. Dengan adanya pasar, Keraton dapat berperan untuk optimalisasi kapasitas manusia dalam hal aspek usaha, lapangan kerja dan peningkatan pendapatan (Hadisiswaya. AM, 2011).

Lantas seiring bergulirnya jaman, kini Keraton Solo dihadapkan pada sejumlah tantangan. Akankan Keraton Solo dapat tetap kokoh berdiri di tengah arus globalisasi ? dan dapatkah kerabat Keraton mempertahankan eksistensi budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat jawa ? Kita mungkin beberapa waktu lalu patut merasa prihatin dengan konflik yang sempat menodai citra keraton Solo, banyak pihak yang merasa prihatin pemkot solo pun turun tangan untuk menyelesaikan masalah. Lha kok kerabat malah kisruh, kan harusnya rukun agawe santosa, kerah (ribut) marakke bubrah. Jika krisis pelestarian budaya dan polemik menghinggapi Keraton, pihak keraton harus mau membuka diri atas dunia masyarakat luas, sehingga tidak terkesan tertutup.

Saya sendiri berpendapat bahwa budaya Jawa harus di jaga dan dilestarikan di tengah arus globalisasi yang amat kecang, bisa dengan memberikan sejak dini penanaman pengetahuan mengenai budaya, dan kelompok pendidikan terkecil kontrol keluarga harus memberikan mindset kepada anak-anak untuk menghargai budaya kita jangan sampai kita di jajah oleh budaya orang lain, dengan tidak malah memberi barang-barang berteknologi mewah yang dalam usianya mungkin belum bisa bijak dalam pemakaiannya melainkan dengan mengenalkan tradisi Jawa seperti menelusuri keragaman upacara Keraton terkait adat dan keagamaan yang telah menjadi tradisi seperti Sekaten yang dilaksanakan setiap tanggal 12 robi’ul awal untuk memperingati lahirnya Nabi Muhammad S.A.W, sekaten bertujuan untuk menimbang hal-hal yang bersifat baik dan buruk, dan semakin yakin kepada Allah. Upacara Garebeg sebagai acara penutupan setelah acara sekaten yang berintikan pemberian sedekah dari Raja kepada Rakyat, Selanjutnya ada Malem Selikuran atau malam 21, yaitu selamatan rosulan malam Lailatul Qadar, atau malam kemulyaan di bulan Puasa/Ramadhan, ada pula peringatan 1 sura, berisikan mengenang kembali hijrah Nabi Muhammad S.A.W. Malamnya di adakan kirab dan jamasan.

Kirab sendiri dapat di artikan perjalanan bersama-sama atau beriring-iring secara teratur dan berurutan dlm suatu rangkaian upacara mengkirabkan sesuatu dan jamasan berupa pemeliharaan warisan dalam bentuk pembersihan pusaka peninggalan leluhur. Perayaan malam pergantian tahun baru berdasarkan kalender penanggalan Jawa yang menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya. Malam 1 Sura dimulai sejak terbenam matahari hari terakhir Bulan Besar yang merupakan bulan terakhir kalender Jawa sampai terbitnya matahari pada hari pertama bulan pertama tahun berikutnya (1 Sura).

Malam 1 Sura bagi masyarakat Jawa merupakan malam yang sakral dan keramat sehingga seluruh pusaka yang dimiliki harus dijamas (disucikan) bertujuan untuk membersihkan agar suasana menjadi nyaman tenteram dan kemudian dikirab. Di Mangkunegaran jamasan dilanjutkan kirab keliling Pura Mangkunegaran dilakukan pada malam hari. Sedangkan di Keraton Kasunana Surakarta, ritual mengelilingi benteng keraton dilakukan dinihari. Seluruh pusaka Keraton dikeluarkan dan disertakan dalam kirab dengan kerbau bule (Kerbau Albino) terkenal dengan sebutan Kyai Slamet yang juga merupakan pusaka Keraton, lampu-lampu Keraton maupun obor yang terbuat dari bambu dengan mengenakan busana Jawa lengkap dan banyak masyarakat Solo dan sekitarnya yang ingin menyaksikan kirab secara langsung.

Selain jamasan dan kirab. Banyak hal lain loh yang menarik dalam menyambut 1 Sura misalnya tradisi-tradisi unik menyambut 1 Sura oleh sebagian masyarakat adalah Tapa (Meditasi), Kungkum (Berendam), lek-lekan (Tirakatan) ada pula yang mewarisi kepercayaan di tiap saat malam 1 Sura, mereka membuat jenang tumpang, jenang tolo untuk di makan bersama-sama sebagai tolak bala supaya tidak mendapat sial, ada juga yang mempercayai bahwa kotoran dari Kerbau Bule jika warga mengambilnya akan mendapat berkah. Kotoran dijadikan rebutan, di tempelkan di kening/pipi dipercaya untuk kesehatan atau hal yang berhubungan dengan berkah, untuk pari, untuk sawah dijadikan pupuk supaya lebih subur, selain itu tidak boleh memakai baju merah saat menonton atau saat Kerbau bule lewat. Mungkin bagi sebagian masyarakat modern itu akan menjadi bahan tertawaan, berbeda dengan masyarakat tradisional atau mereka yang mencintai budaya pasti akan mempertahankan mitos-mitos tersebut sebagai seni dan tradisi.

Banyak mitos yang berkembang secara bias, entah sebaiknya kita sebagai masyarakat harus menjaga mitos tersebut tetap ada atau mencari penjelasan rasional mengenai kebenarannya ? Keraton merupakan a living heritage, tonggak sejarah dan budaya. Dengan demikian hal utama yang perlu dilakukan adalah pemeliharaan, pelestarian dan pengembangan warisan sejarah ratusan tahun itu demi menjamin kelanjutan eksistensi Keraton Solo di masa depan.  Jangan sampai tradisi mengalami degradasi apresiasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s