PENCARIAN EKSISTENSI DIRI PELAJAR YANG MENYIMPANG

Posted: November 25, 2013 in Artikel

Dewasa ini kita sering melihat berbagai macam kerusuhan yang di sebabkan oleh pelajar di Indonesia. Apa penyebab dan bagaimana cara menanggulanginya ? Disini pemerintah dan keluarga memegang peranan penting, kontrol sosial harus lebih di tingkatkan. Di sekolah pun harusnya pelajar tidak diperbolehkan keluyuran pada jam pelajaran, aturan dibuat lebih ketat, dalam sekolah peran guru harus bisa membuat suasana sekolah senyaman mungkin penuh kasih sayang dan cinta kasih, terlebih guru agama yang membentuk karakter iman dan moral siswa nya.

Mendengar kata tawuran kita sudah tak asing lagi karena hampir setiap minggunya kerap menghiasi media massa yang kita tonton, dan menjadi keprihatinan bagi kita semua, terlebih pemerintah dan aparat penegak hukum harusnya tergelitik oleh pemberitaan di media mendengar betapa kacau nya generasi muda bangsa kita dan tidak hanya berdiam diri sembari menikmati kopi.

Konflik memiliki definisi beragam karena beragamnya latar belakang dan perspektif. Tapi pada dasarnya, ada satu kata yang menjadi kesimpulan bersama para ahli tetang definisi konflik. Yaitu disebabkan karena terjadi disharmoni diantara elemen-elemen yang ada, baik dalam skala individu maupun kelompok.

Newstorm dan Davis (1977), melihat konflik sebagai warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku dalam berbagai keadaan akibat daripada bangkitnya keadaan ketidaksetujuan, kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak atau lebih pihak secara terus menerus.

Tawuran seperti mengakar di darah para pelajar, menjadi budaya bagi pemuda bangsa Indonesia, tidak hanya pelajar sebenarnya masih banyak lagi kerusuhan seperti pedagan kaki lima dengan petugas satpol PP, polisi dengan warga.

Wajah Frustasi

Pelajar dalam memaknai solidaritas, mungkin secara postitif yang dimaksud solidaritas adalah saling menolong, saling membantu jika teman terkena musibah tapi disini mereka menganggap solidaritas sebagai “tameng” dalam kelompok, jika yang salah satu anggota terkena serangan maka yang lain juga akan bergerak untuk menyerang pelaku yang menyakiti anggota kelompoknya.

Salah satu faktor yang melatarbelakanginya adalah kemiskinan. Frustasi dalam hidup di masyarakat adalah salah satu sumber yang melahirkan agresi. Tidak banyak sarana untuk menyalurkan agresi. Massa pelajar adalah sarana yang paling memungkinkan untuk menyalurkan agresi tersebut dengan “menyenggol” kelompok lain dan menciptakan kerusuhan. Pemerintah harus lebih banyak lagi mensubsidi fasilitas olahraga dan seni untuk penyelenggaraan ekstrakurikuler dalam sekolah, dan mewajibkan muridnya untuk mengikuti kegiatan itu demi mewujudkan prestasi.

Selanjutnya, di sini kemiskian tidak hanya dipandang sebagai sebuah kondisi di mana secara materi dikatakan serba kekurangan. Lebih jauh kemiskinan merupakan bagian dari sistem dan gaya hidup. Apa akibatnya ? banyak bentuk perilaku pelanggaran dengan mengatasnamakan kemiskinan adalah sesuatu yang pure. Coba saja kita lihat bagaimana orang yang saling injak ketika ada acara pembagian sembako gratis, sekali lagi kemiskinan adalah hal yang sah untuk tidak berbuat tertib dan taat maka disini sangat diperlukan pengawasan sosial.

Soekanto (1985) mendeskripsikan pengawasan sosial adalah proses yang direncanakan atau tidak direncanakan yang bertujuan untuk mendidik, mengajarkan, mengajak, atau bahkan memaksa warga masyarakat agar mematuhi norma dan nilai. Pengertian tersebut dipertegas menjadi suatu pengendalian atau pengawasan masyarakat terhadap tingkah laku anggotanya

Telah banyak diskusi digelar untuk mengurai persoalan kerusuhan pelajar. Namun kenyataannya, seringkali penyimpulan yang dilakukan hanya sekitar pada wilayah regulasi, keamanan, dan sanksi. Jarang ditemui sebuah upaya untuk meruntut akar persoalan yang benar-benar mendalam.

Faktor lain yang mendorong munculnya fenomena kekerasan pelajar adalah proses reproduksi yang dimunculkan melalui propaganda nama, jargon, simbol serta penggunaan bahasa dalam media. Misal kata bantai, bunuh, sikat, habisi, libas, ganyang serta kata kasar lainnya juga tontonan yang di lihat belum pada usia yang semestinya yang senantiasa memicu emosi para pelajar untuk meniru dan melakukannya, menjadi motivasi tersendiri untuk menjadi yang terkuat, yang berkuasa di wilayahnya, kerumunan pelajar mempunyai kekuatan loyalitas yang tinggi terhadap nama kelompok atau nama sekolahnya. Mereka terikat dalam ideologi semu yang direalisasikan dalam bentuk sistem tanda-tanda tertentu. Ikatan ini pada suatu saat mampu berguna selayaknya sumpah prajurit perang dalam medan laga. Orang menjadi tidak takut apapun, orang akan berusaha untuk “juara” dalam medan laga persaingan fisik mereka.

Mengutip Yustinus Sukarmin Selain kurangnya penyaluran hasrat individu yang tersedia secara positif dan optimal, hal yang patut diperhatikan lagi adalah kontrol sosial dari lingkungannya. Lemahnya kontrol sosial yang diberikan keluarga sebagai kelompok paling mendasar, yang berperan dalam terjadinya kerusuhan pelajar. Membiarkan anak di bawah umur 12 tahun dan remaja usia 15-25 tahun menonton adegan-adegan kekerasan dalam film tanpa pengawasan dari orang tua, dan memang harusnya tayangan untuk anak dan remaja harus dibatasi oleh para orang tua. Mereka masih mencari eksistensi diri, bahkan mereka merasa hebat dengan membawa senjata tajam dan membuat keributan. Kondisi ini merupakan potret psikologi massa yang terjadi di sebagian masyarakat metropolitan. Proses imitasi atau menyalurkan amarah ini yang mungkin sedang anak-anak muda ini lakukan.

Oleh karena itu sebagai generasi muda kita hendaknya mencari kegiatan yang positif dan menjauhi segala bentuk tindakan yang menyimpang apalagi yang merugikan banyak pihak mengakibatkan jatuhnya korban, buktikan eksistensi kita dengan prestasi bukan dengan berbuat onar, tawuran di jalanan. Jalanan tempat kendaraan bukan tempat ajang tawuran. Apa guna kita tawuran, lebih baik kita berusaha membuktikan pada orang tua bahwa kita membanggakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s